PUPR Ambon Bersihkan Saluran Pattimura, Sampah Masih Jadi Ancaman Banjir

oleh -5 Dilihat
oleh

Ambon.nusainanews.com – Program GIAT BERSERI (Gerak Inisiatif Ambon Tertata Bersih, Sehat dan Indah) yang dilaksanakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Ambon kembali mengungkap persoalan serius terkait pengelolaan lingkungan perkotaan. Dalam kegiatan pembersihan saluran drainase yang berlangsung di Jalan Raya Pattimura, tepatnya di depan Gereja Maranatha, Selasa (9/6), petugas menemukan tumpukan sampah yang menyumbat aliran air.

 

Kegiatan yang menjadi bagian dari upaya rutin Pemerintah Kota Ambon dalam menjaga kebersihan dan fungsi infrastruktur drainase tersebut dilakukan oleh buruh saluran Dinas PUPR. Pembersihan menyasar sejumlah titik yang dinilai rawan mengalami penyumbatan akibat akumulasi sampah rumah tangga dan limbah lainnya yang dibuang secara sembarangan.

 

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Ambon. Meski berbagai program kebersihan terus dijalankan pemerintah, masih ditemukan volume sampah yang cukup banyak di dalam selokan maupun saluran drainase, termasuk di kawasan strategis pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat.

 

Kepala Dinas PUPR Kota Ambon, Meli Latuihamallo, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Pembersihan dilakukan oleh buruh saluran Dinas PUPR di kawasan Jalan Raya Pattimura. Saat pembersihan, kami menemukan banyak sampah yang menumpuk di dalam selokan dan saluran got,”ingkap

 

Menurutnya, keberadaan sampah di saluran drainase tidak hanya berdampak pada estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih serius, terutama saat curah hujan meningkat. Saluran yang tersumbat menyebabkan aliran air tidak berjalan optimal sehingga meningkatkan risiko genangan hingga banjir di sejumlah kawasan perkotaan.

“Kalau sampah di saluran masih sebanyak ini, berarti masih ada warga yang belum sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Padahal dampaknya bukan hanya membuat kota terlihat kotor, tetapi juga dapat menyebabkan penyumbatan drainase dan memicu banjir saat hujan,” ujar Meli.

 

Program GIAT BERSERI sendiri merupakan salah satu strategi Pemerintah Kota Ambon untuk membangun budaya hidup bersih sekaligus menjaga kualitas lingkungan perkotaan. Melalui kegiatan ini, pemerintah tidak hanya melakukan pembersihan fisik, tetapi juga berupaya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

 

Meli menegaskan bahwa keberhasilan program penataan kota tidak dapat bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Dukungan aktif masyarakat dinilai menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.

“Katong himbau lai par warga Kota Ambon, mari sama-sama jaga kota ini. Jangan buang sampah sembarangan. Kalau katong semua peduli, Ambon akan tetap bersih, sehat dan indah. Katong harus wujudkan wajah Kota Ambon yang benar-benar manise,” tegasnya

 

Lebih lanjut, ia berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, komunitas, pelaku usaha hingga lembaga pendidikan dapat menjadi bagian dari gerakan kebersihan yang berkelanjutan. Perubahan perilaku dinilai menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah yang terus berulang setiap tahun.

“Saya berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjadi bagian dari gerakan kebersihan dengan mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Tanpa dukungan warga, berbagai upaya penataan dan pembersihan yang dilakukan pemerintah akan terus berulang tanpa menghasilkan perubahan yang signifikan,” harap Meli.

 

Temuan sampah di saluran drainase pada pelaksanaan GIAT BERSERI kali ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota yang bersih dan tertata membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Tanpa kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, berbagai program kebersihan yang dijalankan akan sulit memberikan dampak maksimal bagi terwujudnya Ambon sebagai kota yang bersih, sehat, indah, dan berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.