Ambon.nusainanews.com – Rembuk Stunting dan penanganan Komitmen percepatsn penurunan stunting Kota Ambon yang diselenggarakan BAPPEDA Kota Ambon berlangsung di Hotel Marina Rabu,19 Juli 2023 di buka Penjabat Walikots Ambon Boedewim Wattimena
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah 5 tahun akibat dari kekurangan gizi kronis infeksi berulang terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan.Terhitung mulai dari janin hingga anak berusia 23 bulan yang menyebabkan anak lebih pendek jika dibandingkan dengan usianya.Demikian disampaikan Penjabat Walikota Ambon Drs.Boedewin Wattimena dalam sambutannya.
Dikatakan Boedewin,kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir tetapi akan baru nampak setelah anak berusia 2 tahun.Dan kekurangan ini juga dapat menyebabkan terjadinya berbagai masalah kesehatan baik terhadap ibu maupun bayinya
Selain itu,balita atau baluta stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal rentan terhadap penyakit dan beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas di masa depan akan berdampak luas dan akan dapat menghambat berbagai sektor yang lain misalnya pertumbuhan ekonomi menambah tingkat kemiskinan dan semakin memperlebar jarak ketimpangan sosial yang akan terjadi di masa depan.
“Dia menerengkan,data rekesdas melalui SSGI tahun 2021 angka stunting nasional 24,4% menurun menjadi 21,6% di Tahun 2022 dan tidak ada penurunan sekitar 2,6%
Sedangkan di Kabupaten kota di Indonesia tercatat 228 , memiliki preferensi stunting di di atas 40 persen ,” ini tergolong sangat tinggi dan tentunya sangat mengkhawatirkan.
“Pemerintah terus bergerak mulai dari tingkat pusat Provinsi sampai ke Kabupaten kota untuk melaksanakan serta menyusun strategi nasional percepatan pencegahan stunting melalui rpjmn RPJMN dengan target angka stunting nasional di tahun 2024 ada di angka 14% atau di bawah 14 persen. Oleh karena itu apabila pemerintah pusat menargetkan akan menurunkan stunting sampai dengan 14% dengan target capaian 3,8% per – tahun maka secara konsisten pemerintah kota juga harus melakukan hal yang sama.
“Kita berharap kalau pusat menargetkan 14%, maka Kota Ambon harus dibawa itu.
Karena akumulasi dari seluruh daerah di Indonesia kalau masih lebih banyak di atas 14% maka tidak mungkin rata-rata nasional bisa mencapai 14 persen
“Boedewin mengaku bahwa survei status Indonesia Tahun 2022 mencatat preferensi stunting Kota Ambon 21,1% menurun tapi persentase penurunan paling rendah dari seluruh Kabupaten kota di Provinsi Maluku
“Kita memang yang paling rendah.” Akuinya
“Saya kerja cuma marah marah soal penanganan stunting.Karena dari sisi apapun kita lebih dari Kab.kota yang lain.dan soal fakses, nakes,aksesbilitas ke puskesmas posyandu lebih baik tetapi kita turun dari mereka berarti ada yang teristimewa dalam tata kelola.oleh karena itu, target kita di tahun 2022 18,6 meleset.dan hanya bisa mencapai 21,8 pada bulan Mei dalam kegiatan audit stanting.” Saya bersyukur bahwa terjadi pengurangan angka stanting tetapi kita masih menunggu lagi hasil resmi dari pemerintah pusat melalui SSI .
“Saya berharap membangun kerjasama yang baik Karena stunting ini tidak bisa dilakukan hanya oleh satu tapi butuh kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan supaya stunting ini bisa menurun
“Saya berkali-kali sampaikan bahwa kita tidak bisa hanya fokus untuk mengatasi anak-anak yang hari ini menderita stunting ,tetapi yang mesti kita lakukan adalah mencegah sejak dini .
“Saya minta dinas-dinas terkait lakukan pendampingan kepada remaja-remaja Putri ibu Hamil terutama dinas kesehatan lewat Puskesmas posyandu cegah stunting masih dari prosesnya bukan setelah anak itu lahir dengan memberikan tablet tambah darah , makanan nutrisi yang cukup.
Sempat juga Boedewin menyinggung arahan Presiden bahwa anggaran penanganan stunting sudah dialokasikan milyaran rupiah ke Provinsi Kabupaten dan Kota tetapi penggunaannya yang tidak tepat sasaran sebagian besar dihabiskan untuk perjalanan dinas dan rapat-rapat koordinasi.Padahal tujuan adalah memberikan makanan tambahan nutrisi yang cukup.”Presiden bilang kasih beli telur sebanysk- banyaknya artinya ada kesalahan dalam tata kelola penanganan stunting selama ini.”tandasnya
“Terhadap hal itu,”Boedewin mengharapkan mudah- mudahan itu, tidak terjadi di kota Ambon.” kita tidak butuh perjalanan dinas ke mana-mana.Di kota ini pergi ke kecamatan-kecamatan cukup naik mobil . karena itu alokasi anggaran yang disediakan oleh masing-masing OPD hanya untuk beli tablet tambah darah,susu kepada ibu hamil,nutrisi dan makanan tambahan kepada anak-anak penderita stunting.
“Saya sudah arahkan Desa Kelurahan untuk juga dialokasikan dari dana desa sesuai perintah dari pemerintah pusat.”Nah karena ada beberapa sumber-sumber dana yang perlu koordinasi yang baik jangan sampai tumpang tindih semua beli susu pada ibu hamil maka secara komprehensif kita tidak bisa menyelesaikan persoalan
.
“Saya berharap semuanya bergerak bersama tidak ada lagi laporan di bawah kita hanya turun 0,7% kalau bisa tahun 2023 ini kita sudah bisa di bawah 14%.Oleh karena itu pencegahan stunting tetap menjadi momentum yang tepat untuk mewujudkan tujuan pembangunan manusia seutuhnya kita punya cita-cita di beberapa tahun ke depan yang luar biasa.
“Saya minta semua jajaran pemerintah kota, mari fokus untuk Indonesia emas. dukung Ambon emas tidak didukung oleh kota-kota yang lain di 2045 dan hadirkan generasi emas supaya Pak Jokowi punya cita-cita untuk Indonesia sebagai negara maju di tahun 2045 itu bisa tercapai
“Saya berharap rembuk stunting ini, diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama dari kita untuk penanganan stunting atau penurunan stunting di kota Ambon dan terus bersinergi.Mudah-mudahan komitmen semakin memperkuat kerjasama untuk mengatasi stunting di kota Ambon.” harapnya (*)






