DSA Berupaya Maksimal, Daerah Resapan Menyusut Jadi Ancaman Serius Air Bersih Ambon

oleh -16042 Dilihat
oleh
Oplus_16908288

Ambon, NusaInaNews.com – Persoalan pasokan air bersih di Kota Ambon kembali menjadi sorotan. Keluhan warga terkait distribusi air terus berulang, terutama di kawasan padat penduduk seperti Batu Merah, Pandan Kasturi, dan Karang Panjang. Namun di balik persoalan pelayanan, ancaman yang lebih besar dinilai datang dari kondisi lingkungan, yakni menyusutnya debit air dan berkurangnya wilayah resapan.

Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, sebelumnya melontarkan pernyataan keras menanggapi keluhan warga soal suplai air bersih.

“Batu Merah, Pandan Kasturi dan Karang Panjang itu dikelola PT DSA yang tidak tau diri itu. Tidak pernah bikin pelayanan yang baik buat masyarakat, dan yang disalahkan Pemerintah Kota Ambon,” kesal Wattimena, usai Rapat Paripurna di Balai Rakyat Belakang Soya, Rabu (26/11/2025).

Ia juga meminta warga mendatangi kantor PT DSA apabila pelayanan di tiga kawasan tersebut dianggap buruk.

“Kantornya ada di depan kantor Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. Kalau mereka pelayanan tidak baik di tiga daerah itu, datang demo mereka di sana,” tambahnya.

Meski demikian, persoalan air bersih di Ambon dinilai tidak bisa dilihat hanya dari sisi pelayanan semata. Ketersediaan air baku menjadi masalah besar karena debit di sejumlah mata air utama dilaporkan terus menurun.

Pada tahun 2023, jumlah pelanggan PT DSA berkisar 10 ribuan. Namun debit air yang mampu dipompa, ditampung, dan dialirkan kepada pelanggan hanya sekitar 3.000 meter kubik per hari. Kondisi ini membuat suplai air ke rumah-rumah warga tidak dapat berlangsung maksimal.

Kepala Bagian Langganan PT DSA Ambon, Jefri Riri, pada 2023 saat diwawancarai Mongabay, tidak menampik adanya masalah distribusi air. Ia menyebut penyebab utamanya adalah debit air yang mengalami penyusutan pada mata air utama seperti Sungai Wairuhu, Waineo, dan Air Panas di kawasan Air Besar.

“Debit sudah kecil, hampir seng [tidak] ada lagi,” ungkapnya terkait kondisi mata air Wairuhu yang telah kritis.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan air baku, PT DSA mengandalkan sumur dalam di sejumlah titik. Contohnya di kawasan Karang Panjang, air ke rumah-rumah pelanggan disuplai dari empat sumur dalam dengan kedalaman masing-masing 100 meter.

Selain itu, perusahaan juga membor sumur dalam di belakang Soya, Flamboyan, Batu Merah Atas, Tanjong, Arema, Galunggung–Tanah Rata, hingga Kampong Tomia. Berkat upaya tersebut, produksi air meningkat hingga 6.000 meter kubik per hari.

Namun angka itu masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Tapi masih kurang 4 ribu meter kubik air/hari,” ungkapnya (9/8/2023).

Kepala Bagian Perencanaan PDAM Kota Ambon, Jhon Pattinaja, juga menjelaskan bahwa dari empat sungai yang mata airnya dimanfaatkan oleh PDAM, salah satunya yakni Sungai Wainitu debitnya telah menyusut.

”Untuk memenuhi kebutuhan suplai air ke pelanggan, dibantu dengan tiga sumur dalam saat musim kemarau,” kata Jhon (10/8/2023).

Di sisi lain, masyarakat menilai penyebab krisis air di Ambon juga sangat dipengaruhi perubahan kondisi alam yang semakin nyata. Perubahan musim, ancaman kemarau panjang, serta pertambahan penduduk mendorong kepadatan permukiman dan pembangunan yang terus masuk ke kawasan resapan air.

Akibatnya, wilayah serapan air semakin tipis dan masif berkurang dari tahun ke tahun. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap debit air serta pasokan yang dapat dikelola oleh penyedia layanan.

Kurangnya mitigasi pemerintah kepada masyarakat sekitar kawasan resapan air juga menjadi sorotan. Area yang seharusnya dijaga kelestarian lingkungan hidupnya, termasuk hutan lindung dan kawasan konservasi, justru terus mengalami tekanan pembangunan.

Penataan kota yang kian semrawut dikhawatirkan akan berdampak pada semakin menurunnya debit air yang menjadi sumber utama pasokan air bersih masyarakat.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana pemerintah daerah melakukan tinjauan serius terhadap ketersediaan air permukaan yang terancam kering, serta memastikan ketersediaan air bersih bagi warga dalam 10 hingga 15 tahun mendatang, terutama menghadapi ancaman kemarau panjang dan perubahan musim yang semakin tidak menentu.

Sekadar diketahui, Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku berada di Pulau Ambon dengan luas 74.340 hektar. Topografi wilayahnya didominasi area berlereng terjal dengan kemiringan di atas 20 persen seluas 73 persen. Sisanya terdiri dari daratan landai 17 persen serta pantai, pesisir, dan laut 10 persen.

Kota Ambon memiliki 15 aliran sungai yang mengalir menuju Teluk Ambon. Dari yang terpanjang Wai Sikula (15,5 km) hingga yang terpendek Wai Webi (2,5 km). Karakteristik ini menyebabkan air permukaan (run off) yang tidak terserap tanah sangat mudah terbuang ke sungai dan laut saat musim hujan.

Dari sejumlah DAS yang seharusnya menjadi wilayah hijau resapan, telah terjadi perubahan bentang lahan. Seperti di bagian hulu dan tengah DAS Wai Ruhu dan Wai Batu Merah, Kecamatan Sirimau.

Perumahan dan permukiman warga, termasuk rumah pejabat hingga fasilitas pemerintahan, telah berkembang di kawasan itu. Bahkan terdapat gedung perguruan tinggi yang dibangun dalam kawasan hutan alam. Sejumlah kawasan lindung, hutan, dan wilayah resapan pun telah digarap menjadi ladang pertanian.

Pembangunan dan kegiatan di kawasan tersebut dinilai menyalahi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 24 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Ambon Tahun 2011–2031. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.