Menepuk Air Didulang Terpercik Muka Sendiri,Mengaku Hebat Tuak Tertumpah

oleh -348 Dilihat
oleh

Nusainanews.Com.maluku, – Sebuah pribahasa yang hampir punah ,namun tetap menjadi kenangan indah dimasa kini “Menepuk Air Didulang Terpercik Muka Sendiri” Pribahasa ini sebuah peringatan dan sindiran kepada orang yang berupaya mempermalukan seseorang ,namun pada akhirnya diapun menerima dampak dari konsekuensi perbuatannya sendiri, Dulang merupakan talang air ,biasanya dperuntukkan oleh peternak kuda ,kambing atau sapi dan dulang ini ditempatkan oleh peternak dikandang ternak sebagai talang air untuk minuman ternak,namun dulang ini telah punah digiring modernisasi yang pesat hingga keberadaan dulang telah punah

Begitupun ungkapan “Tuak Tertumpah” merupakan sebuah uraian kata yang ringkas namun sangat sarat dengan makna, Tuak pada intinya merupakan tetesan air enau atau nira untuk bahan utama membuat gula merah ,zat ini banyak dijumpai di Sulawesi Tenggara bahkan sampai saat ini masyarakat menjadikan profesi untuk bahan tambahan penghasilan keluarga ,namun makna Tuak tertumpah merupakan istilah yang tidak lazim lagi dilingkungan masyarakat suku bugis yang berarti .Malu seseorang telah terbongkar atau tertumpah.

Kedua ungkapan kata ,” Menepuk Air Didulang Terpercik Muka Sendiri ,Mengaku Hebat Tuak Tertumpah”adalah sebuah simbol kata yang pantas digunakan dan diperuntukan pada kebanyakan orang yang saat ini selalu mengaku hebat padahal sebaliknya, bahkan selalu berencana mempermalukan orang lain namun pada ujungnya Ia sendiri yang menanggung malu ,bahkan tidak sedikit orang dimasa kini yang selalu mengaku pernah menjadi pahlawan pada seseorang yang terpuruk dimasa lalu namun hal itu merupakan sebuah cerita fiktif semata, bahkan pernah menjadi pembimbing dan preman,sejagat padahal semua hanya cerita karangan demi popularitas semata.

Modernisasi masa kini membuat orang gampang beropini tanpa bukti, olehnya itu perlu pemahaman dan pendidikan yang memadai untuk menangkis informasi yang bertubi-tubi ,bukan cerita kosong dengan asumsi pribadi ,yang dijadikan acuan untuk mencapai visi dan misi, sangat naif bila seorang guru mengajarkan moral agar berahlak dan berbudi ,sementara dirinya sendiri sering kencing berdiri, orang bijak sering berucap ,bilamana ada orang yang mengakui dirinya hebat dan pintar ,sesungguhnya itu bukanlah orangnya ,namun sebaliknya .Kehebatan dan kebijakan serta kepandaian seseorang bisa dinlai dari hasil karya serta kebijakan dan rasa sosial dalam menjalin persahabatan bukan justru saling menebar kebencian lewat berbagai fitnah, ujungnya langkah terbatas,silahturahmi terputus tanpa disadarinya.

Menghindari pepatah ,Menepuk Air Didulang Terpercik Muka Sendiri ” kuncinya sadar diri dan mengakui kekurangan diri ,bukan justru puji diri tanpa bukti dengan segala cerita besar di alam mimpi, langkah tertekan karena kesombongan diri ujungnya malu tanpa sadar diri. Orang yang mengaku bodoh ujungnya pasti pintar karena tak pernah malu untuk belajar karena diri merasa bodoh sebaliknya orang yang selalu merasa pintar tetap akan bodoh dan tak akan pernah berkembang ,dan pada gilirannya ,”Tuak Akan Tertumpah,” dan rasa malu akan dialami namun malas tahu ,karena pada dasarnya orang yang demikian mayoritas tidak tahu malu , walaupun masa lalu,mengajarkan rasa malu, namun sungguh miris. Mudah-mudahan dimasa depan akan sadar dan punya rasa malu berkat cerita dan pelajaran dimasa lalu .(ferdi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.