Pangdam Pattimura Kedepankan Pendekatan Humanis Jaga Stabilitas Maluku

oleh -9 Dilihat
oleh

Ambon.nusainanews.com. — Upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayah Maluku menjelang peringatan 25 April terus diperkuat melalui pendekatan humanis dan persuasif. Kodam XV/Pattimura bersama Pemerintah Provinsi Maluku memilih strategi penguatan kemanunggalan TNI dengan rakyat sebagai langkah utama meredam potensi gangguan keamanan.

Langkah preventif tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Salah satu program unggulan adalah karya bakti berskala besar yang dilaksanakan di Negeri Aboru, Kabupaten Maluku Tengah, dengan melibatkan unsur TNI, pemerintah daerah, dan warga setempat.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembenahan fasilitas umum, tetapi juga menghadirkan layanan kesehatan terpadu bagi masyarakat. Pemeriksaan kesehatan yang diberikan meliputi layanan kesehatan gigi, penyakit dalam, kesehatan anak, hingga pemeriksaan mata secara gratis.

Pangdam XV/Pattimura, Dodi Triwinarto, menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat bertujuan menciptakan rasa aman sekaligus mencegah berkembangnya provokasi yang berpotensi merusak persatuan di Maluku.

“.Masyarakat Maluku saat ini telah menunjukkan kedewasaan dalam berbangsa. Fokus kolektif kita adalah pembangunan berkelanjutan demi kesejahteraan generasi mendatang, melalui peningkatan infrastruktur dan layanan kesehatan. Tidak ada tempat bagi narasi yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa.”ungkapnya di Ambon, Sabtu (25/4/2026).

Meski mengedepankan pendekatan humanis, Pangdam memastikan seluruh jajaran tetap dalam status Siaga 1. Patroli rutin terus dilakukan di sejumlah titik strategis guna menutup ruang bagi penyebaran narasi separatisme yang dinilai dapat mengganggu stabilitas daerah.

Pemerintah Provinsi Maluku turut menegaskan bahwa setiap gerakan yang mengarah pada separatisme berpotensi menghambat pembangunan dan merugikan masyarakat luas. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Dari perspektif akademis, Peneliti Sejarah Politik Universitas Pattimura, Sem Touwe, menilai pentingnya menjaga memori kolektif masyarakat yang berorientasi pada perdamaian sebagai benteng terhadap potensi konflik.

“Penolakan masyarakat terhadap gerakan separatis merupakan bentuk kesadaran kolektif untuk melindungi Maluku agar tidak kembali terjebak dalam konflik masa lalu.” Jelasnya

Menurutnya, pengalaman sejarah telah memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat Maluku untuk lebih mengedepankan persatuan dan stabilitas sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.

Melalui sinergi strategis antara TNI, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, kondisi keamanan di Maluku saat ini dinilai semakin kokoh. Pendekatan humanis yang diterapkan dinilai efektif dalam membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat ketahanan sosial.

Komitmen bersama ini menjadi bukti bahwa stabilitas dan kerukunan sosial merupakan prasyarat utama dalam mewujudkan Maluku yang maju, aman, dan sejahtera di masa depan.(NI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.