Ambon, NusaInaNews.com – Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Prof. Dr. Yance Zadrak Rumahuru, M.A., menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Agama RI ke Provinsi Maluku pada 16–17 Januari. Menurutnya, kunjungan tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat Maluku, khususnya aparatur sipil negara (ASN) di bawah Kementerian Agama serta civitas akademika perguruan tinggi keagamaan negeri di Ambon.
Prof. Yance mengatakan, Menteri Agama meluangkan waktu yang cukup padat selama kunjungannya, bahkan bermalam di Ambon. Agenda dimulai sejak pagi hari bersama anggota DPD RI dan Pemerintah Provinsi Maluku, dilanjutkan dengan kunjungan ke situs-situs sejarah dan budaya di Pulau Banda.
“Di Banda, Menteri Agama tidak hanya melihat langsung peninggalan sejarah dan budaya, tetapi juga berdialog dengan masyarakat. Beliau menekankan pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai identitas bangsa,” ujar Prof. Yance.
Ia menambahkan, Banda memiliki posisi strategis secara nasional dan berpotensi dikembangkan sebagai destinasi unggulan pariwisata budaya, melengkapi kawasan lain seperti Bali, Lombok, hingga Raja Ampat. Menteri Agama, kata Prof. Yance, juga berkomitmen menyampaikan aspirasi masyarakat Banda kepada kementerian terkait, termasuk mendorong keterlibatan Kementerian Kebudayaan dalam pengembangan kawasan tersebut bersama pemerintah daerah.
Selain isu kebudayaan, perhatian Menteri Agama juga diarahkan pada penguatan pendidikan tinggi di Maluku. Salah satunya adalah dukungan terhadap rencana perubahan bentuk IAKN Ambon menjadi universitas.
“Pak Menteri menegaskan akan memberikan perhatian serius terhadap usulan transformasi kelembagaan dari institut menjadi universitas. Semua persyaratan telah kami penuhi dan kami berharap proses ini bisa dipercepat,” jelasnya.
Menurut Prof. Yance, Menteri Agama memahami tantangan pengembangan perguruan tinggi keagamaan negeri di wilayah timur Indonesia. Ia menilai kebijakan tidak bisa disamaratakan dengan wilayah barat, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual dan adil.
Transformasi menjadi universitas dinilai sangat penting untuk pengembangan sumber daya manusia Maluku dan memutus ketergantungan masyarakat terhadap pendidikan di luar daerah, khususnya di Pulau Jawa. Dengan status universitas, kampus diharapkan mampu membuka program studi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Saat ini, IAKN Ambon memiliki 21 program studi, termasuk program studi keagamaan dan program studi umum yang berizin Kementerian Pendidikan. Kampus ini bersifat inklusif dan terbuka bagi semua agama, etnis, dan golongan.
“Dari sekitar 5.000 mahasiswa, hampir satu persen beragama Islam, selain mahasiswa Katolik dan agama lainnya. Kami juga memiliki dosen dan pegawai lintas agama. Ini adalah wujud nyata semangat toleransi dan kerukunan,” ungkap Prof. Yance.
Beberapa program studi yang diminati mahasiswa lintas agama antara lain Pendidikan Anak Usia Dini, Pariwisata, Pendidikan Seni, Psikologi, Teknologi Pendidikan, serta Agama dan Budaya.
Prof. Yance mengajak masyarakat Maluku dan kawasan timur Indonesia untuk memanfaatkan kehadiran perguruan tinggi ini sebagai pusat pengembangan SDM. Informasi lengkap mengenai profil kampus dan program studi dapat diakses melalui laman resmi IAKN Ambon.
“Kami optimis ke depan, dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi keagamaan negeri di Ambon akan menjadi motor penggerak pembangunan, sekaligus penjaga nilai kerukunan dan perdamaian di Maluku,” pungkasnya. (NI-01)








